Budaya & Tradisi · Kelurahan Letta · Bantaeng
BUTTATOA
Sebuah perjalanan menelusuri sejarah, adat, dan
warisan budaya tanah tua Bantaeng.
Isi Halaman
Asal Usul · Balla Lompoa · Masjid Tua Tompong
Kelurahan Letta
Kab. Bantaeng, Sulawesi Selatan
Menelusuri Jejak
Jauh sebelum Bantaeng dikenal sebagai salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan, wilayah ini telah memiliki perjalanan sejarah panjang. Bantaeng dikenal dengan sebutan Butta Toa, berarti tanah tua. Sebutan ini mencerminkan pandangan bahwa Bantaeng merupakan salah satu wilayah tua yang telah memiliki kehidupan dan peradaban masa lampau.
Jejak keberadaan Bantaeng disebut telah tercatat dalam Kitab Negara Kertagama yang disusun oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365. Terdapat pendapat yang memperkirakan Bantaeng telah ada sejak sekitar tahun 500 Masehi.
Bantaeng turut mengalami dinamika Perang Makassar (1666–1669) dan pemerintahan kolonial Belanda. Nama Bantayang berkembang menjadi Bhontain. Setelah Indonesia merdeka, namanya kembali menjadi Bantaeng berdasarkan Keputusan DPRD Tingkat II Nomor I/KPTS/DPRD-GR/1962, tanggal 22 Januari 1962.
"Tujuh kelompok masyarakat bermusyawarah mencari seorang pemimpin — Mula Tauwwa pun diangkat sebagai pemimpin pertama Bantayang."
— Asal Mula Kerajaan BantayangKisah awal Bantaeng berkaitan dengan Kerajaan Bantayang yang disebut berdiri pada tahun 1254 di bawah kepemimpinan Mula Tauwwa atau To Toa. Pertemuan tujuh Kare-Kare — Onto, Bissampole, Gantarang Keke, Mamampang, Sinoa, Katapang, dan Lawi-Lawi — menjadi titik awal sebuah pemerintahan yang menekankan kepemimpinan yang membawa kebaikan.
Warisan sejarah Bantaeng terus hidup melalui Adat Sampulo Anrua (Adat 12), budaya A'rera' atau gotong royong, tradisi Barakong, serta bangunan bersejarah seperti Balla Lompoa dan Masjid Tua Tompong. Seluruhnya menjadi bagian dari identitas Butta Toa yang mewariskan nilai dari generasi ke generasi.
Perubahan Nama Bantaeng
Bantayang
Nama awal kerajaan, 1254 M
Bhontain
Masa pemerintahan kolonial Belanda
Bantaeng
Pasca kemerdekaan, sejak 1962
Balla Lompoa
Istana Kerajaan Bantaeng — dipindahkan ke Letta, 1913
Sejarah
Balla Lompoa merupakan warisan arsitektur Kerajaan Bantaeng yang menyimpan jejak perjalanan sejarah Butta Toa. Istana kerajaan ini awalnya berada di Kasoreang dan menghadap ke laut. Pada tahun 1913, istana dipindahkan ke Kalimbaung, kemudian ke Letta.
Bangunan ini tidak hanya menjadi tempat tinggal kerajaan, tetapi juga menjadi ruang penting bagi kegiatan pemerintahan dan musyawarah adat.
Arsitektur
Balla Lompoa mengadopsi bentuk dasar rumah panggung Bugis-Makassar dengan bangunan induk dan beberapa bangunan tambahan. Atapnya berbentuk segitiga dengan ornamen kepala dan ekor naga pada bagian depan dan belakang.
01
Ballak Kananga
Di sisi kanan, digunakan untuk menerima tamu.
02
Sonrong
Di sisi kiri, untuk musyawarah Adat Sampulo Anrua dan menerima bangsawan.
Filosofi
Ornamen naga melambangkan kedudukan dan derajat yang tinggi, sekaligus mencerminkan akulturasi budaya luar dengan budaya lokal Bantaeng. Balla Lompoa bukan sekadar bangunan fisik, tetapi simbol kekuasaan, penghormatan, dan kehidupan pemerintahan adat.

Detail Arsitektur
Struktur & Akses
- —7 pintu total
- —2 pintu utama (Bangunan Induk & Suro)
- —1 pintu Sonrong
- —1 pintu belakang
- —2 pintu kamar
- —1 pintu tengah Sonrong
Jendela & Ventilasi
- —Bangunan Induk: 7 jendela terali kayu ukir
- —4 jendela depan, ventilasi suluran
- —3 ventilasi timpalaja
- —Kaligrafi Arab di atas jendela
- —Suro: 5 jendela panil kaca
- —Sonrong: 5 jendela serupa
Lantai & Dinding
- —Lantai: papan kayu persegi panjang ditata sejajar
- —Dinding: papan kayu dengan panil sejajar
- —Dihiasi ukiran bermotif persegi panjang
Atap & Ornamen
- —Atap berbentuk segitiga
- —Ornamen kepala naga — depan
- —Ornamen ekor naga — belakang
- —Mencerminkan akulturasi budaya





Filosofi · Tangga
Jumlah anak tangga mencerminkan hierarki sosial kerajaan.
19
Bangunan Induk
Untuk Karaeng (Raja) dan keturunan bangsawan
7
Bangunan Suro
Untuk tamu raja atau tamu bangsawan
1
Sonrong
Untuk masyarakat biasa
Masjid Tua
Tompong
Didirikan 1885 M · Kelurahan Letta, Bantaeng

Masjid Tua Tompong merupakan salah satu bangunan bersejarah yang menjadi saksi perkembangan Islam di Butta Toa, Bantaeng. Masjid ini didirikan pada tahun 1885 atas inisiatif Karaeng Panawang, Raja Bantaeng, bersama Adat Sampulo Anrua (Adat 12).
Pembangunannya turut didukung oleh La Bandu, seorang dermawan dari Wajo, dengan arsitek bernama La Pangewa dari Bone.
"Lima pintu yang melambangkan lima rukun Islam."
— Warisan Arsitektur IslamCiri Khas Arsitektur
- 01.Atap tumpang tiga — arsitektur tradisional Nusantara
- 02.Dua gapura berbentuk setengah lingkaran
- 03.Relief dan kaligrafi menghiasi bagian dalam
- 04.Lima pintu — melambangkan Lima Rukun Islam
- 05.Perpaduan arsitektur lokal dan pengaruh budaya luar
Pada masa lalu, Masjid Tua Tompong tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat syiar dan pembelajaran agama. Hingga kini, keberadaannya menjadi bagian penting dari warisan sejarah dan perkembangan Islam di Bantaeng.
Penutup
"Seluruhnya menjadi bagian dari identitas Butta Toa, yang mewariskan sejarah, budaya, dan nilai-nilai kehidupan dari generasi ke generasi."